Home > Berita Terkini Konsulat Jenderal
Komentar Konsul Jenderal RRT Di Denpasar Mr.Gou Haodong
2018/12/28

Duduk sekarang di kantor, saya bisa mendengar teriakan slogan dan juga bisa melihat saudara-saudari Muslim yang berdemo di luar jendela . Walaupun ingin sekali keluar dan berdialog langsung dengan mereka, tetapi ditahan oleh satpam kami, katanya, ada orang yang sudah jadi tak masuk akal dan akan berbuat yang ekstrim.

Rakyat Indonesia, termasuk saudara-saudari Muslim, punya rasa keadilan yang kuat, hal itu tentu bagus. Di dunia sekarang ini, rasa keadilan justru sangat berharga. Akan tetapi peristiwa yang terjadi sekarang dan di Jakarta pada Jumat lalu, sangat menyedihkan hati saya.

Ingin saya sampaikan kepada saudara-saudari Muslim tadi: anda telah ditipu orang. Rumor yang sangat mengerikan itu adalah kebohongan, adalah pembuatan fitnah, dan malah bukan fakta. Juga ingin saya bertanya: Tahukah anda tentang Xinjiang Tiongkok?

Ijinkanlah saya menceritakan tentang Xinjiang Tiongkok: di Xinjiang ada 10 suku bangsa, 14 juta penduduk dengan kebanyakannya umat Islam, 24.4ribu Masjid, maka kemungkinan lebih banyak masjid per kapita di Xinjiang daripada di Indonesia. Umat Islam di Xinjiang bisa membaca Kitab Quran dalam 4 bahasa termasuk bahasa Uyghur.

Bagaimana berita media masa Barat tentang Tiongkok? Merusak masjid, menganiayai kaum Muslim, melarang kegiatan agama. Berita semacam ini justru karena anda tidak mengenal tentang Tiongkok. Tapi bukan semua umat Muslim Indonesia tak pernah ke Tiongkok. Delegasi NU NTB baru berkunjung ke Tiongkok bererapa hari yang lalu; Pak Eddy dari Asita Bali sudah berkunjung ke Tiongkok berkali-kali dan setiap kali ke Tiongkok dia bersembahyang di Masjid Tiongkok. juga ada ribuan putera puteri Indonesia yang belajar di Tiongkok, mereka lebih mengenal tentang Tiongkok. Cobalah anda tanya kepada mereka. Baik kaum Muslim, maupun kaum Katolik, kaum Kristen, Kaum Buddha di Tiongkok, semua merupakan anggota dari keluarga besar Bangsa Tionghua. Pertama-tama meraka adalah warga negara Tiongkok, hampir semuanya mencintai negara diri sendiri. 56 suku bangsa di Tiongkok hidup rukun bersama dan membangun bersama negara diri sendiri. Kalau tidak, Tiongkok tak mungkin punya keberhasilan hari ini. Coba bayangkan: negara yang menganiayai umat agama, apa mungkin tenteram? Apa mungkin damai? Apa mungkin berkembang? Apa lagi mungkin ada jutaan warga negaranya yang bertamasya bahagia ke Bali?! Akan tetapi, rumor yang tak pantas ditanggapi ini malah menghasilkan membakar kemarahan saudara-saudari Muslim Indonesia! Disamping sedih hati, saya juga ingin bertanya: Kenapa ada orang yang mau menghasut dan membajak saudara-saudari Muslim dengan kebohongan yang tak pantas ditanggapi seperti ini? Apa sebenarnya niatnya? Apa sebenarnya kemauannya?

Hubungan persahabatan Indonesia dan Tiongkok bersejarah panjang dan berkembang terus, hal ini sangat menggembirakan. Tetapi ada orang yang tak mau menerima hal ini. Ada orang yang justru memanfaatkan ketidaktahuan publik Indonesia, khususnya kaum Muslim Indonesia tentang Tiongkok, dengan sesuka hatinya membina fitnah dan berhasil mendorong peristiwa seperti hari ini! Ada peribahasa kuno Tiongkok: Tiga kali fitnah datang, hancurlah hubungan bersaudara. Jahat berfitnah, sedihnya mempercayainya. Itulah yang paling menyedihkan hati saya! Sementara itu, saya juga merasakan betapa mendesaknya untuk memperdalam saling pemahaman antara kedua rakyat kita! Berita yang dibawa kembali oleh wisatawan Tiongkok yang semakin banyak ke Bali adalah: Indonesia sangat indah, rakyatnya sangat ramah tamah. Dua pekan lalu,sebuah artikel yang berjudul “ Muncullah Suatu Negara Kuat yang Bernada Rendah” (negara itu adalah Indonesia) oleh think-tank Tiongkok yang terkenal sudah menarik banyak perhatian dan perhargaan di kalangan rakyat Tiongkok. Indonesia sebagai mitra kerja sama yang penting bagi Tiongkok sudah semakin diterima dan didukung oleh rakyat Tiongkok.

Akan tetapi, peristiwa yang terjadi sekarang ini juga sangat memprihatinkan saya: kalau tanpa pelindungan kepolisian yang ketat dan profesional, apa akan ada akibat yang lebih serius misalnya terjadi peristiwa berdarahan? Indonesia ada korban aksi kaum ekstremis agama,ledakan bom teroris di Bali pada tahun 2002 dan 2005, serangan bom berseri teroris di Surabaya tahun ini masih berkumandang. Beberapa tahun belakangan ini, di banyak tempat di Tiongkok, khususnya di Xinjiang, sering terjadi serangan teroris. Ekstremisme agama semakin merajalela di Tiongkok khususnya di Xinjiang, situasi ini sangat memprihatin. Terorisme adalah musuh utama di seluruh dunia, dan penindakan tegas terhadap terorisme juga merupakan kesepakatan dan langkah bersama seluruh dunia. Akan tetapi ada sebagian negara justru membina fitnah tentang Xinjiang Tiongkok. Sangat jelaslah standar ganda itu. Pembinaan fitnah seperti ini, apa untuk menyatakan simpati kepada kaum Muslim, atau justru mau membajak perasaan kaum Muslim? Silakan anda bertanyalah lebih memdalam. Tentang keadaan terkini kaum Muslim Xinjiang, anda bisa cek di internet ada “Jawaban Juru Bicara Kedubes RRT atas Program Pelatihan dan Pendidikan Vokasi di Xinjiang” (http://id.chineseembassy.org/indo/xwdt/t1623518.htm), artikel ini membahas rinci tentang fakta-fakta yang diinginkan para teman wartawan.

Sebagai kedua negara penting di Asia dan Dunia, Indonesia dan Tiongkok bergandeng tangan pasti akan bersumbang besar terhadap kedamaian dan pembangunan Asia maupun Dunia. Makin berkembangnya Hubungan kemitraan Strategis yang menyuluruh antara Tiongkok dan Indonesia sesuai dengan keuntungan rakyat kedua negara dan didukung oleh rakyat kedua negara. Cobaan siapa saja yang mau merusak persahabatan dan hubungan kerja sama kedua negara kita dipastikan sia-sia!

Suggest to a friend:   
Print